Azmiata

Hubungan antar manusia memang ribet. Riyeh. Riweh.
Saat ada konflik dan mau ngeluarin unek-unek sama yang bermasalah buat dibahas, tapi keburu ambil jalan diam. Ya sudah. Saya diam, yang dinyana diam. Saling menyalahkan, dalam hati.

Versi saya yang paling parah. Otak sudah kental sekali dengan memori buruk si oknum.
Sejak pertama bertemu, fine. Ini jaman dulu kala banget. Saat sama-sama berusaha. Sama-sama mengejar impian. Saat masih sama-sama tidak punya. Tidak punya apa-apa untuk dibanggakan. Mungkin karena ini jugalah saat itu kami tidak menonjolkan ego. Sampai saat pertemuan keberapa, entah si oknum punya feeling bakal tersaingi atau bagaimana, konflik demi konflik terjadi.

Ketika itu kami ingin berangkat menggunakan travel ke tempat jauh, saya dijemput supirnya terlebih dahulu. Dan ketika menjemput dia, ternyata banyak kawan-kawannya, yang mungkin diundang olehnya dalam acara khusus pelepasan, kemudian kles pertama di antara kita muncul. Saya di dalam mobil enggan keluar. Ya sudah, sih. Si oknum tinggal masuk mobil, berangkat. Kan gitu. Tapi ini enggak, dia malah bilang ke teman-temannya, “di dalem mobil ada kawan gw juga tuh yang tujuannya sama. Tapi sorry ya, dia enggak mau keluar dulu. Anaknya tuh cupu gitu.” DAM* SH*T!!!, dalam hati saya, ini oknum songong abis.

Yang paling bikin sakit hati sebenarnya di sini. Kami di lingkungan baru. Semua kenalan baru. Dari anak-anak sampai ibu-ibu. Feeling kecil saya, dia medok sekali sifat ingin menonjolnya. Terlebih sebelumnya merasa saya orang yang cupu, sehingga kan hukumnya haram anak gahol berdekatan dengan anak cupu. Jadi ketika berjalan beriringan dari kamar kecil menuju ruangan penuh orang, ia berkata, “Mik, kamu duluan aja masuk ruangannya, saya nyusul.” “Ooh, ya sudah, lo mau balik ke wc lagi?” Tanya saya. “Enggak, gw malu aja jalan bareng sama lo”. FFFFUUUUUUUUU!!!

Lama waktu terlewati, banyak hal menyakitkan kembali menyayat hati. Tapi itu hal-hal kecil yang sudah saya maafkan. Tapi saya juga manusia, jadi kuberi tahu, saat saya yang salah, saya hanya memendamnya saja di dalam hati. Esok lusa sudah kutegur sapa lagi. Namun belum kuputuskan untuk yang sekarang ini. Beraaat sekali permasalannya. Jadi mari kuceritakan lagi.

Saya adalah orang yang berantakan. Tidak rapih. Saya terlalu ingin menampilkan ruangan seperti seperti layaknya sebuah toko yang memajang semua barang-barangnya di etalase. Serba terlihat. Hehe… Saya akui itu. Menjadi satu-satunya laki-laki di antara saudara perempuan membuat saya malas. Terbiasa memiliki selir yang siap disuruh beberes. My Bad. Intinya dalam penataan ruangan, saya berantakan. Tapi masih suka beberes kook! Tapi jarang. Tapi enggak parah amat kook. Pembelaan.
Di sini, semua orang harusnya sadar. Kelakuan seumur hidup takkan hilang dalam sepekan. Jadi pertama kami tinggal bersama. Kemudian saya membiasakan diri. Dan saya tidak langsung berhasil. Apa yang bisa seorang teman lakukan? Semuanya, kecuali menyebarkan sifat buruk saya tersebut pada yang lain. Tapi justru itulah yang dia lakukan. Di Group dan status BBM ia menyindir saya habis-habisan (Kami sudah mampu beli gadget keren sekarang, lho). Ketika mengobrol dengan teman dan tetangga, topik bahwa saya malas, saya berantakan, enggak suka bebersih “pun” digelar bak acara gosip terkenal. Cih! Sayanya juga yang buruk dalam menerima cara dia yang begitu, bukannya berubah rapih, malah kuberantakin dan kucueki keadaan rumah dalam beberapa bulan. Mampus lah kita!

Aah, kami sudah lama berteman di FB, saling follow di Twitter. Ini ada hubungannya dengan cerita berikut. Jadi suatu ketika ia sedang jadwal dinas malam, yang mana siang ia bebas tugas. Paginya ada upacara khusus. Jadi setelah subuh ia tidur lagi. Pagi tiba dan saya berangkat untuk mengikuti upacara tanpa membangunkannya. Dan ketika kembali, kudapati hati ini tersayat lagi. Aku mendapati, si oknum mencaci kelakuan saya yang tidak membangunkannya untuk ikut upacara khusus kepada banyak orang. Di twitter. Dengan olokan, dan banyak tanda seru. Beberapa kalimat yang teringat di benak, “Enggak laki kalo enggak ngebangunin temennya buat upacara.” Jadi ngatain saya banci, gitu? Lha kok? Dafuq!!!
Dari sekian banyak cara untuk diperbincangkan, ditanyakan alasannya langsung kepada yang bersangkutan, si oknum memilih untuk menjauhkan penyelesaian masalah dengan mengadukan dan menyebarkannya lewat kicauan absurd. Kalau ada alasan lain mengapa dia begitu, maka menurutku, itu bentuk dia mencari pendukung, mengurangi rasa bersalahnya karena tidak bisa menjadi peserta upacara. Tidak bisa ikut foto-foto. Pfft!
Saya unfollow twitternya. Saya enggak sanggup kalau terpaksa harus membaca yang begitu lagi. Beberapa hari setelah menyadari hal ini, si oknum pun melakukan hal yang sama. Kami tidak lagi saling mengikuti (twitter.red).

Suatu ketika lagi, saat saya ngobrol dengan teman yang lain dan berkata, “Ah, bagus kok si Oknum, dia telaten dan rajin kerjanya” kemudian si teman bilang, “kamu hebat mi, sering diomongin jelek sama si Oknum tapi pas punya kesempatan enggak ngebales”.
Whaaa?! Saya kaget, namun sekejap kukendalikan keadaan biar bisa memancing si teman ini bercerita. Didapatilah keadaanya begitu. Ia sering gibah tentang saya di belakang, kapan saja dan di mana saja. Cih!! ‘Laki banget!’

Cerita yang terakhir, suatu ketika saya sedang berbincang dengan junior-junior. Aah, iya, kami sudah punya banyaaak sekali junior di kantor sekarang. Mereka rajin-rajin, dan pintar-pintar. Jadi layaknya urusan senior yang ingin berbagi pengalaman kepada junior, maka “banyak” berceritalah saya. Kuceritakan bagaimana dahulu saya tes kerja, dll, dsbg. Dan berhubung si “oknum” memang masuk dalam sejarah saya, ya beberapa kali kesebut dalam cerita saya. Si junior bertanya, “lho, kak Azmi dulu tes bareng sama kak “oknum?” Saya masih biasa, jadi langsung mengiyakan. Lalu saya cerita lagi, junior bertanya lagi, “Ooh, kak Azmi satu kota juga sama kak “oknum”? Begitulah sampai tiga kali pokoknya. Saya heran. Kenapa sih, kok kebersamaan saya dengan si oknum jadi begitu spesial? Kutanyakan pada mereka, dan OLALA. Saya tercabik-cabik karena ini.
“Jika ingin membunuh karakter orang lain, lakukan fitnah dan gibah!”
Mungkin slogan itu melekat erat di Sistem Prosedur Operasional si oknum dalam visinya yakni menjadi lebih hebat dari saya. Dibelakang, saya diolok-olok, direndahkan lewat junior saya sendiri. Benar-benar tega. Tapi begitulah, memang ada kok orang yang untuk menjadi tinggi ia bersedia bermain kotor dengan merendahkan orang lain.

Dan karena segala kebaikannya selama ini pada saya, saya menulis ini tanpa menyebut nama. Biarlah ini hanya agar jerat lengket gumpalan kepingan keburukan tentang si oknum sirna dari benak.

Jadi tadi saya bertanya pada si oknum, “kamu benci banget ya sama saya?” dia balik bertanya, “kok?” yang kemudian saya jawab dengan, “kok kamu fitnah dan gibah tentang saya si ke junior?”. Ia kaget dengan perkataan saya yang tiba-tiba. Lalu ia bekilah, “Enggak mi, gw ga pernah gitu kok.”
Saya tidak percaya. Pertama karena kecil sekali kemungkinan para junior berbohong, dan motifnya apa? Mau mengadu domba memecah belah seniornya pada kesempatan pertama mereka bekerja di kantor? Alasan kedua karena nada bicaranya yang goyah, penuh kebohongan.

Saya lalu mengakhirinya dengan memberitahu yang seingat saya begini, “Oknum, percuma wajahmu rupawan kalau gibah, di mata Allah yang terlihat mulutmu itu penuh dengan daging mayat yang terselip di gigi.” Imajinasi saya seketika membayangkan tekstur mayat, perasaan bahwa itu adalah mayat saudara kita, dan aromanya yang sangat menusuk. Saya mual.

Memaafkan tetaplah sebuah proses. Memaafkan yang ini tidak membuat kami langsung bergurau canda dan saling bertegur sapa.

Dimulai, lagi kami saling diam.

Reblog with your school. Be proud.

matangdilat: Divine Light Academy Las Pinas.

wondergilou: Polytechnic university of the Philippines.

sarcasticsandra: Canossa Academy Calamba.

urlnimegan: Canossa College San Pablo City.

aikaaholic: University of Santo Tomas.

cookiecaramel: Assumption College Makati.

mandalawangi: Nur Hidayah Integrated Islamic Senior High School

nnndaru: TK Bhayangkari Pemalang Indonesia

belindch: Gadjahmada University, Indonesia

masgun : Bandung Institute of Technology , Indonesia

yustinputri: Universitas Sriwijaya, Indonesia.

enggarwardhani: Sriwijaya University, Indonesia

achmadlutfi: Ostfalia University of Applied Sciences

tazy: Ghent University, Belgium

ragilliarach : Institute Teknologi Nasional, Bandung, Indonesia

rajaharahapp : Universitas Padjadjaran, Bandung, Indonesia

Azmiata : Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Indonesia

Thanks You…! \(*o*)/

Thanks You…! \(*o*)/

(Source: unraveledwordsblog)

Mana, Staf pribadi anak magang prodip yang ditugasi membantu saya, di ruangan mencekoki telinga saya dengan selalu menyetel dan menyanyikan lagu Adera yang ini. Saya jadi ikutan suka. :D

Bahwa hari ini, keputusan masa lalu bereaksi menjadi tantangan.
Keputusannya benar. Sangatlah benar. Mengajak pada kebaikan.
Namun nyata, mengajak kebaikan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Bahwa menembus hati yang mengeras oleh kekuasaan kan seperti peluru kacang berusaha menembus zirah besi. Dan saya terlalu perdana saat menembakkannya di saat situasi genting.

Keputusanku benar.
Namun putih adalah putih bagi kita yang sedari awal mengetahui bahwa terang itulah putih.
Sedangkan orang lain mungkin tidak. Bahwa setelah melewati berbagai pendapat yang berkarat, putihku bukanlah putihnya meski kami ber-agama sama.

Dan itulah yang terjadi. Akulah timah, beliau emas. Jangan diadu.

Namun setidaknya beberapa teori telah menantang untuk dipraktekkan. Meski hasilnya memalukan.
Bahwa meski kita benar, tampuk lain semisal kekuasaan melihatnya berbeda.
Dan mengabaikan rumor yang beredar tidaklah semudah ku dahulu mengatakannya.

Tiga hal yang pasti. Saya bertanggung jawab pada keputusan itu, saya tidak menyesalinya sama sekali, dan bila kondisinya sama kan kulakukan lagi.

Ketika Ibu, berkali-kali memberikan yang terbaik untuk buah hatinya.

Ketika Ibu, berkali-kali memberikan yang terbaik untuk buah hatinya.

“Ikhlas dalam persfektif Islam adalah salah satu dari dua syarat diterimanya ibadah selain taat aturan.”
— Ibnu Rajab, Jami’ul Ulum wal Hikam.
“Lebih baik gunakan otak dan hati sendiri buat menyaring kata-kata kita, daripada mengeluarkannya semua lalu membiarkan orang lain yang menyaringnya. Karena yang pertama bisa mengasah diri sedangkan untuk yang kedua bisa menimbulkan bias komunikasi dan penilaian hati.”